Suara hati mungkin tak semua orang bisa mengartikanya, orang hanya mengerti
setiap gerak tubuh, mimik, dan suara lisan kita. Tapi apakah yang kita rasakan
sebenarnya hanya ada pada hati itu sendiri. Tak sedikit banyak orang mau
memahami bahkan meremehkan feeling kita sendiri. Sesuatu yang terlupakan yaitu
bagaimana kita menjadikan diri ini sesuai kemampuan. Orang hanya memikirkan ego
dan seiring perkembangan, mereka terus dan terus mendayung untuk menjadi yang
lebih baik. Tak jarang orang mau mengakui kelemahanya, bahkan menutupinya
dengan ketegaran yang diwarnai dengan sikap aku mampu untuk itu dan tidak ada
yang mampu kecuali aku. Ketika kita mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai maka
rasa penyesalanpun akan menjadikan sebuah momok. Sungguh, janganlah memandang
sesuatu yang kecil itu remeh melainkan sebuah hal yang berharga.
Cinta yang kita jadikan separuh dari semangat hidup. Tak sesuatu yang akan
mematikan impian. Jika itu tidak diimbangi dengan akal yang normal. Tak usahlah
kita berbelit-belit dia adalah semangat hidupku, tanpa dia dunia terasa sepi.
Apa itu!! Ok. Tanpa orang terkasih kita bukanlah siapa-siapa, tetapi sebagian
dari kita salah memaknai arti cinta itu. Dia bukan kesenangan tapi tujuan nanti
yang kita jadikan pijakan saat kita tak mampu untuk mengerjakan hal untuk
sendiri. Katakanlah pernikahan., lah..., disitu barulah cinta akan
melengakapinya dengan bersama-sama mengarungi impian untuk mencapai titik yang
sulit. Kita dituntut untuk menciptakan generasi yang lebih dan lebih potensial.
Tidak semua orang bisa, bahkan banyak dari orang tua melupakan bagaimana
mendidik karakter anak. Disini peran cinta dibutuhkan, seorang anak membutuhkan
kasih sayang. Bukan dengan materi tapi kita harus selalu ada untuk
mendampinginya. Jangan sekali-kali membedakan buah hati dengan yang lain. Sebab... itu akan mematikan
karakter anak. Biarkan dia bebas melakukan segala hal dalam batasan-batasan
tertentu tetapi perlu diingat pengawasan selalu dibutuhkan. Butuh itulah yang
sering terabaikan.
